Kamis, 06 September 2007

Berikut ini adalah versi HTML dari berkas http://www.koperindo.com/artikelkongrespemuda.pdf.

Berikut ini adalah versi HTML dari berkas http://www.koperindo.com/artikelkongrespemuda.pdf.
G o o g l e membuat versi HTML dari dokumen tersebut secara otomatis pada saat menelusuri web.
Untuk menautkan atau menandai situs ini, gunakan URL berikut: http://www.google.com/search?q=cache:jnlAIH_eTrEJ:www.koperindo.com/artikelkongrespemuda.pdf+fkkmi+koperasi&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id&client=firefox-a


Google tak ada kaitannya dengan pemilik/pembuat laman ini, dan juga tak bertanggung jawab atas kandungan materi yang terdapat di dalamnya.
Kata kunci yang dipakai untuk penelusuran sudah distabilo fkkmi koperasi

Page 1
PEMUDA KOPERASI DAN MIMPI TENTANG BANGKITNYA KOPERASI
INDONESIA
( Catatan Kongres Nasional Pemuda Koperasi, Yogyakarta)
Oleh:Agus Budiono*
Bolehjadi pergantian pengurus dekopinda Kota tangerang beberapa waktu lampau
menjadi salah satu momentum fenomenal dalam khazanah perkoperasian Indonesia.
Betapa tidak, koperasi yang selama ini identik dengan kepengurusan oleh golongan
senior mulai diwarnai dengan munculnya wajah-wajah muda yang akan ikut
menyemarakan dinamika perkoperasian tangerang.trend pergantian generasi ini terliha
menghangat dibeberapa wilayah, mungkin ini merupakan jawaban dari stagnasi kader
yang disinyalir terjadi ditubuh koperasi. Aspirasi perubahan dan regenerasi kader
koperasi seringkali disuarakan oleh beberapa pihak seperti yang dilakukan FKKMI
beberapa waktu lampau yang mengrkritisi struktur kepengurusan dekopin versi Adi
Sasono yang dianggap tidak merepresentasikan peran kaum muda secara
proporsional. Tetapi benarkah koperasi memerlukan ”kader” seperti yang selama ini
dipahami oleh banyak aktivis koperasi?
Parameter regenarasi koperasi oleh banyak pihak diukur dari seberapa banyak ”orang
muda” yang menduduki instrumen-intrumen kelembagaan koperasi seperti Dekopin
serta kuantitas ”anak muda” yang mau terju atau bergelut dikoperasi. Dalam konteks
kelembagaan regenerasi terjadi secara alami, selalu muncul bibit baru yang akan
meggantikan golongan tua yang telah mulai uzur, tetapi proses natural tersebut seolah
tidak terjadi di koperasi. Sebut saja Koperasi mahasiswa yang Oleh Mantan Dirjen
Koperasi Ibnu Sudjono disebut sebagai wadah pembelajaran berkoperasi mahasiswa,
tapi kenyataanya berapa banyak aktivis koperasi mahasiswa yang melanjutkan
karirnya dikoperasi? Sedikit sekali. Diantara sedikit orang tersebut ada Ketua
Kopindo Agung Eko (Kopma UNY), Mantan Pengurus Harian Dekopin Agung
Sudjadmoko (Kopma UNS), Mantan Anggota Legislatif Muhamad Iqbal (KKMB
Bandung) Ketua BKPK Pusat Adji Gutomo, dan beberapa orang yang bermain diluar
struktur seperti Suroto dan Ilham Nasai (Koperma Unsoed) serta sedikit yang lain.
Fenomena kemandegan kader ini lebih parah terjadi di daerah. Aktivis-aktivis
koperasi mahasiwa yang lain lebih suka bekerja disektor swasta dan pemerintah
untuk kemudian menjadikan koperasi hanya bagian dari masa lalu.
Instabilitas keder ini bisa dirasakan saat dengan sangat tiba-tiba tokoh senior gerakan
Koperasi Bapak Ibnu Sudjono yang memang sudah sepuh meninggal, Siapa yang
mampu melajutkan kiprah beliau? Mungkin Pemikiran-pemikiran brilian beliu
meskipun tidak seluruhnya tetapi setidaknya kita masih dapat membacanya dari buku-
buku beliau, tetapi ketokohan dan sepak terjang beliau siapa yang mampu
meneruskan?Jika semakin banyak tokoh sekaliber Bapak Ibnu Sudjono yang rata-rata
sudah sangat senior tidak dapat lagi melanjutkan pengabdianya bisa dipastikan
Indonesia akan miskin pemikir-pemikir koperasi.
Persoalanya sebenarnya lebih kepada 3 hal pokok. Pertama adalah Koperasi dianggap
kurang memberikan prospek terhadap masa depan pemuda. Pandangan pragmatis
seperti ini menggejala dihampir semua lapisan kepemudaan koperasi. Wajar memang
ditengah hegemoni kapitalis yang semakin menggila pertanyaan tentang kemampuan
koperasi memberikan kesejahteraan dalam konteks materi seringkali dipertanyakan.
Kedua adlalah pola jaringan antar aktivis koperasi dirasakan sangat lemah.
Sebenarnya tidak sedikit koperasi dengan omzet Milyaran bahkan Trilyunan rupiah
berdiri di Indonesia. Ambil contoh seperti KSP Kodanua, KSP Setia Bhakti
Wanita,Gabungan Koperasi Batik Indonesia GKBI, Induk Koperasi Perikanan
Indonesia (IKPI) dan sekian banyak koperasi dengan klasifikasi A yang mempunyai
aset Berkisar 3 Trilyun sampai 20 Milyar tetapi belum bisa bersinergis dengan
alumnus koperasi mahasiswa atau koperasi pemuda yang lain untuk mengembangkan
kemampuanya berkoperasi. Koperasi seringkali lebih suka mengambil personel
manajemen dari luar lingkaran bukan dari pemuda-pemuda koperasi dengan alasan
profesionalitas, padahal kapabilitas aktivis koperasi mahasiswa sudah teruji
dikopmanya masing-masing. Kopma UGM misalnya, dengan capaianya omzet Rp.
7,6 Milyar pertahun sudah merupakan bukti kemampuan pengurusnya mengelola
bisnis. Ada lagi IUN Suka dan UNY dengan pendapatan berkisar 4 M pertahun,
diwilayah timur ada Kopma Brawijaya, Kopsoed dan UNS di wilayah tengah dan
Kopma Unisba sertabanyak kopma yang lain diseluruh wilayah RI dengan
Rentabilitas yang baik cukup memberikan gambaran bahwa generasi kopma mumpuni
dalam usaha ditambah lagi dengan pemahaman kopersi yang memadai seharusnya
bisa menjadi nilai tambah. Ketiga sifat kepemimpinan pewaris ternyata belum
sepenuhnya melembaga di gerakan koperasi. Kesadaran para senior untuk
memberikan kesempatan belajar kepada kaum muda sangat minimal, mungkin
kesempatan ini ada tetapi tidak terinformasikan dan teroerganisir dengan baik.
Mungkin koperasi perlu belajar dari organisasi politik yang menempatkan kaderisasi
sebagai salah satu prioritas. Di kelembagaan politik instrumen kepemudaan
mendapatkan tempat yang penting.
Perubahan memang disadari tidak akan datang dengan sendirinya. Prinsip ini juga
dipahami oleh gerakan pemuda koperasi stagnasi gerakan koperasi dengan berbagai
macam friksi gerakan koperasi yang bersumber dari konflik Dekopin (Dewan
Koperasi Indonesia) disikapi sangat hati-hati oleh pemuda koperasi. Puncak
kecemasan pemuda koperasi dimanifestasikan dengan digelarnya Kongres Pemuda
Nasional Koperasi yang dimotori oleh Koperasi Kopma UGM, BKPK (Badan
Koperasi Pemuda Koperasi Indonesia ) Wilayah Yogyakarta, FKKMI (Forum
Komunikasi Koperasi Mahasiswa Indonesia) dan Koperasi Pemuda Indonesia ini
diselenggarakan 16-18 Desember 2006 bertempat di University Center UGM. Agenda
akbar yang dihadiri oleh 200 delegasi dari seluruh Indonesia yang dikemas padat ini
dititikberatkan pada aspek pembangunan idealisme dan aksi di kalangan aktivis
koperasi yaitu pemuda koperasi atas perannya sebagai agent of change dalam
percaturan gerakan koperasi Indonesia. Poin-poin penting isu koperasi di konsep
menjadi 4 komisi strategis yang masing-masing membidangi permasalahan
fundamental Koperasi Indonesia. Komisi-komisi tersebut diantaranya Komisi
Politik/Gerakan Pemuda Koperasi, Komisi Jaringan Usaha, Komisi Pendidikan,
Pelatihan dan Informasi dan Komisi Kelembagaan bagi perjuangan pemuda koperasi.
Setelah melewati sidang komisi dan sidang pleno yang diadakan maraton selama 2
hari, perwakilan pemuda koperasi indonesia menghasilkan 11 butir Manifesto
Gerakan Pemuda Koperasi Nasional yang dirumuskan sebagai berikut :
1. Memperkuat komitmen kebangsaan dan nasionalisme;
2. Keterlibatan pemuda koperasi dalam pembahasan undang-undang koperasi;
3. Melibatkan pemuda dalam setiap pengambilan kebijakan publik;
4. Pendidikan murah untuk rakyat sebagai upaya mencerdaskan kehidupan
bangsa;
5. Menuntut pihak pemerintah untuk mengambil langkah-langkah stratejik guna
mengurangi dominasi produk asing sebagai wujud kemandirian bangsa
Indonesia;
6. Menuntut peran pemerintah dalam memperhatikan,memberdayakan, dan
mem-fasilitasi berkembangnya jaringan usaha koperasi Indonesia;
7. Mengecam keras tindakan pemerintah memprivatisasi asset-aset stratejik
bangsa yang menguasai hajat hidup orang banyak karena tidak sesuai amanah
UUD 1945 Pasal 33 (3) dan dengan ini kami menuntut pemerintah untuk
menghentikan privatisasi BUMN;
8. Meminta pemerintah untuk lebih proaktif /perhatian secara khusus kepada
koperasi pemuda dalam DIKLAT koperasi/perekonomian;
9. Merekomendasikan kepada Kementrian agar melakukan sinergi dengan 16
Departemen/Kementrian yang menangani pemuda;
10. Menuntut Pemerintah untuk lebih serius menangani kasus-kasus korupsi yang
telah menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara;
11. Menuntut Pemerintah untuk lebih memperhatikan nasib buruh dan petani.
Manifesto yang akan disampaikan kepada pihak legislatif dan eksekutif ini juga di
suarakan melalui aksi damai yang diikuti oleh perwakilan pemuda koperasi di
Bundaran UGM. Pengawalan konsep juga dilakukan dengan membentuk tim yang
bertugas untuk merumuskan lebih jauh langkah kongkrit dari suara keprihatinan
pemuda koperasi Indonesia.
Boleh jadi forum kongres ini hanya sebuah riak kecil yang tidak akan menghasilkan
gelombang apabila hanya berhenti pada wilayah wacana. Perlu peran semua pihak
untuk membangun kejayaan koperasi sebagai sokoguru perekonomian Indonesia.
Pemuda telah bersuara meskipun dengan suara yang lemah. Pemuda prihatin dengan
kondisi bangsa yang koyak-moyak. Kesadaran penuh dari semua elemen yang
mengaku sebagai pejuang koperasi untuk menanggalkan kepentingan pribadinya dan
bersinergi demi kepentingan Negara sangat diperlukan. Mohamad Hatta telah
mengajarkan kepada kita bahwa demi kepentingan bangsa beliau menanggalkan
perbedaan dan kepentingan pribadi dan membangun bangsa Bersama Presiden
Sukarno, kenapa kita tidak?
*) Ketua Tim Pasca Kongres Nasional Pemuda Koperasi

Tidak ada komentar: