Instabilitas keder ini bisa dirasakan saat dengan sangat tiba-tiba tokoh senior gerakan
Koperasi Bapak Ibnu Sudjono yang memang sudah sepuh meninggal, Siapa yang
mampu melajutkan kiprah beliau? Mungkin Pemikiran-pemikiran brilian beliu
meskipun tidak seluruhnya tetapi setidaknya kita masih dapat membacanya dari buku-
buku beliau, tetapi ketokohan dan sepak terjang beliau siapa yang mampu
meneruskan?Jika semakin banyak tokoh sekaliber Bapak Ibnu Sudjono yang rata-rata
sudah sangat senior tidak dapat lagi melanjutkan pengabdianya bisa dipastikan
Indonesia akan miskin pemikir-pemikir koperasi.
Persoalanya sebenarnya lebih kepada 3 hal pokok. Pertama adalah Koperasi dianggap
kurang memberikan prospek terhadap masa depan pemuda. Pandangan pragmatis
seperti ini menggejala dihampir semua lapisan kepemudaan koperasi. Wajar memang
ditengah hegemoni kapitalis yang semakin menggila pertanyaan tentang kemampuan
koperasi memberikan kesejahteraan dalam konteks materi seringkali dipertanyakan.
Kedua adlalah pola jaringan antar aktivis koperasi dirasakan sangat lemah.
Sebenarnya tidak sedikit koperasi dengan omzet Milyaran bahkan Trilyunan rupiah
berdiri di Indonesia. Ambil contoh seperti KSP Kodanua, KSP Setia Bhakti
Wanita,Gabungan Koperasi Batik Indonesia GKBI, Induk Koperasi Perikanan
Indonesia (IKPI) dan sekian banyak koperasi dengan klasifikasi A yang mempunyai
aset Berkisar 3 Trilyun sampai 20 Milyar tetapi belum bisa bersinergis dengan
alumnus koperasi mahasiswa atau koperasi pemuda yang lain untuk mengembangkan
kemampuanya berkoperasi. Koperasi seringkali lebih suka mengambil personel
manajemen dari luar lingkaran bukan dari pemuda-pemuda koperasi dengan alasan
profesionalitas, padahal kapabilitas aktivis koperasi mahasiswa sudah teruji
dikopmanya masing-masing. Kopma UGM misalnya, dengan capaianya omzet Rp.
7,6 Milyar pertahun sudah merupakan bukti kemampuan pengurusnya mengelola
bisnis. Ada lagi IUN Suka dan UNY dengan pendapatan berkisar 4 M pertahun,
diwilayah timur ada Kopma Brawijaya, Kopsoed dan UNS di wilayah tengah dan
Kopma Unisba sertabanyak kopma yang lain diseluruh wilayah RI dengan
Rentabilitas yang baik cukup memberikan gambaran bahwa generasi kopma mumpuni
dalam usaha ditambah lagi dengan pemahaman kopersi yang memadai seharusnya
bisa menjadi nilai tambah. Ketiga sifat kepemimpinan pewaris ternyata belum
sepenuhnya melembaga di gerakan koperasi. Kesadaran para senior untuk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar