Jumat, 14 September 2007

Bank Syariah

Bank Syariah harus mampu memberikan berbagai macam layanan pembiayaan produk syariah lainnya untuk menambah aset perbankan. Selama ini 75% aset bank syariah berasal dari Murabahah (penyaluran dana dalam bentuk jual beli).

” Untuk mendukung hal itu, selain kesiapan SDM yang handal, juga harus didukung oleh teknologi informasi yang siap untuk mendukung produk-produk tersebut,” kata Djarot Subiantoro, Presiden Direktur PT Sigma Cipta Caraka (SIGMA) saat mengisi seminar Arsitektur Perbankan Syariah Indonesia, di Jakarta, kemarin (18/4/07).

Menurut Djarot, TI yang dapat mendukung Bank Syariah adalah yang dapat mendukung produk-produk syariah dan sesuai dengan regulasi Bank Indonesia (BI) dan MUI, bebas dari perhitungan bunga, memiliki middleware yang mudah dan memiliki customer information systems yang terintegrasi.

” Dari sisi platformnya, TI pada bank syariah tidak berbeda dengan bank konvensial. Namun dari sisi aplikasi sangat jauh berbeda karena dia menggunakan sistem bagi hasil. Yang membuat aplikasinya lebih kompleks karena sistem bagi hasil umumnya dibagi per bulan. Bahkan, untuk keamanan data nasabah, BI meminta perhitungan harian juga,” papar Djarot.

Meski kompleks, lanjut Djarot, tidak lantas membuat aplikasi bank syariah lebih mahal dari aplikasi bank konvensional. ” Software itu istilahnya value base bukan softbase. Value base dipengaruhi oleh pasar, kemampuan market dan profitabilitas bisnis mereka.

SIGMA telah mengembangkan aplikasi core banking system untuk perbankan syariah di Indonesia sejak tahun 1999. Selain itu, perusahaan yang menerima sertifikasi dari Dewan Syariah Nasional (DSN) tahun 2004 ini, juga menawarkan jasa alih daya (outsourcing) bagi bank-bank syariah.

Djarot menyatakan dari 21 bank syariah yang ada di Indonesia, lima diantaranya sudah memanfaatkan jasa outsourcing dari perusahaannya.

Selain memanfaatkan TI untuk mendukung bank syariah mendapatkan aset yang lebih besar, Djarot juga menyarankan bank-bank syariah untuk bergabung atau saling bersinergi satu dengan yang lainnya.

” Tolok ukur dari kesuksesan suatu bank terletak pada strategi bisnisnya. Secara teknologi dimungkinkan bank syariah untuk mengejar kesuksesan bank konvensional tapi kembali ke business plan-nya,” tambahnya.

Bank Indonesia mentargetkan pencapaian 5% aset perbankan syariah tahun 2008, dari 1,6% tahun ini.

Tidak ada komentar: